Kamis, 28 April 2016

Artikel Observasi Pengusaha



PENGUSAHA PEJUANG BADAI, CERMIN KEPALA KELUARGA SETIA



 





Selangkah Lebih Dekat Mengenal Bapak Suyamtono

            Di dunia ini, banyak orang yang kesana – sini sibuk mencari pekerjaan. Bagi orang yang tidak mempunyai kreativitas dan inovasi, pegangan, serta pandangan ke depan, tentu akan pusing oleh kehidupan di dunia ini. Namun, berbeda halnya dengan pak Suyamtono, yang berani mengambil risiko untuk membuka usaha sendiri. Seorang laki – laki yang sering disapa Pak Tono (panggilan akrabnya), dengan tekad dan dukungan dari keluarga berhasil menjadi seorang pengusaha vilet ikan.
            Pengusaha asal Batang ini, lahir pada tanggal 17 Agustus 1980 dan beragama islam. Di tahun 2016 ini, beliau hampir memasuki usia 36 tahun. Di usia tiga puluh enam tahun, beliau sudah mampu mendirikan usaha sendiri. Beliau menghidupi keluarganya dari hasil usaha yang digelutinya tersebut.
Menengok ke latar belakang pendidikan Pak Tono, beliau adalah lulusan SMA di daerahnya. Meskipun ilmu dan pengetahuan beliau tidak sebanding dengan mereka yang merasakan duduk di bangku kuliah, namun usaha yang digeluti Pak Tono tidak kalah dengan usaha – usaha lainnya. Ilmu dan pengetahuan tidak membatasi seseorang untuk berkarya dan bertindak. Sebab kedua hal tersebut dapat diperoleh dari luar bangku pendidikan formal, seperti melalui pengalaman, wawancara, sharing dari orang lain, pengamatan/observasi, dan lain – lain.
Begitulah yang terjadi pada diri Pak Tono. Jadi, pendidikan tidak sepenuhnya berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, namun dengan pendidikan kesuksesan akan dapat diraih, sebab pendidikan salah satu factor pendukung kesuksesan.

Kepala Keluarga Setia







       
Dalam sebuah keluarga tentu saja ada seorang ayah, ibu, dan anak, dimana dalam keluarga posisi seorang ayah adalah sebagai kepala keluarga. Peran dan tugas seorang kepala keluarga yaitu : kepala keluarga bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan anggota keluarganya. Itulah yang tercermin dalam diri pribadi Pak Suyamtono. Melalui usaha yang didirikannya, dari hasil usahanya tersebut beliau menafkahi keluarganya dengan baik, sehingga terciptalah keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga Pak Tono.
            Peran penting pak Tono dalam keluarganya, membuat Pak Tono berpikir ulang untuk tidak bekerja dengan orang lain (buruh). Dukungan keluarga dan semangat yang akhirnya mendorong pengusaha asal Batang ini mencari peluang usaha. Hasilnya sekarang, pak Tono dapat membuka usaha sendiri bahkan dapat menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain.
            Kesetiaan Pak tono sebagai kepala keluarga terbukti melalui tindakan nyata beliau dalam menafkahi keluarga. Artinya beliau tidak lupa atas tanggung jawab beliau dalam keluarga yang dibinanya.

Pengusaha Pejuang Badai

 








Pengusaha adalah seseorang yang menjalankan suatu usaha atau bisnis tertentu. Dalam menjalankan suatu usaha seseorang haruslah berkomitmen tinggi dan berani dengan setiap kemungkinan baik maupun buruk yang akan terjadi.
            Setiap usaha yang didirikan, pasti ada risiko tersendiri yang kadang menjadi hambatan bagi pengusaha tersebut. Tidak ada suatu usaha yang dapat berjalan mulus dan lancar tanpa adanya hambatan atau kendala yang di hadapi.
            Misalnya, suatu pengusaha yang bergerak di bidang bahan baku makanan, seperti usaha vilet ikan. Jelas usaha ini membutuhkan ikan sebagai bahan baku agar usaha tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya. Bahan baku yang berupa ikan, diperoleh dari laut. Tantangan saat melaut yaitu cuaca. Tidak selamanya cuaca itu baik untuk melaut. Ada kalanya cuaca buruk, disertai gelombang besar, hujan deras, petir, bahkan badai. Hal inilah yang menjadi kendala atau hambatan bagi pengusaha dimana usaha tersebut menggunakan ikan sebagai bahan baku  yang paling utama. Hal tersebut juga mengganggu aktivitas para nelayan yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk. Jika, ikan sebagai bahan utamanya tidak ada, maka usaha tersebut tidak dapat berjalan dan berhenti sementara waktu sampai cuaca membaik. Dampaknya juga berimbas kepada karyawan yang dapat bekerja seperti biasanya.
            Kendala atau hambatan lainnya yaitu masalah distribusi atau pemasaran. Usaha vilet ikan ini merupakan suatu usaha dengan bahan baku ikan yang kemudian diproses melalui beberapa tahap, yaitu :
1.      Pencucian/penyiraman dengan air
2.      Pengupasan kulit
3.      Pemisahan duri/tulang dengan dagingnya
4.      Pembungkusan
5.      Penyimpanan dalam coolbox/fiber.

 

Karena sifat daging ikan yang tidak dapat bertahan lama, maka distribusi/pemasaran vilet ikan haruslah tepat sesuai perkiraan sebelumnya. Namun, seringkali keadaan di jalan tidak dapat diprediksi. Kemacetan yang terjadi akan menghambat proses pendistribusian/pemasaran vilet ikan ke tempat atau daerah tujuan distribusi. inilah yang menyebabkan seorang pengusaha akan mengalami kerugian.

Sikap Teladan Bapak Suyamtono (Pengusaha Vilet Ikan)

          

              Seorang pengusaha yang berhasil merintis usahanya dengan baik, dapat ditelusuri bahwa orang tersebut banyak mengalami lika – liku, jatuh bangun, dalam membangun suatu usaha. Pegusaha sukses adalah pengusaha yang memulai semuanya dari nol dan menikmati hasilnya kemudian hari. Sedangkan kriteria pengusaha sukses menurut Pak Tono, yaitu: mampu mengembangkan/memperluas usahanya dalam waktu 1 tahun, dapat menambah tenaga kerja, menjamin kesejahteraan karyawan, dan lebih memperluas daerah pemasaran.
            Untuk menjadi seorang pengusaha, selain ilmu, pengetahuan, dan pengalaman, mereka juga harus mempunyai sikap – sikap seorang entrepreneur, diantaranya: ulet, tekun, rajin, berani, kreatif, inovatif, pekerja keras, percaya diri, bertanggung jawab, dan lainnya. Sikap – sikap itulah yang patut kita contoh sebagai bentuk teladan bagi kita dalam berwirausaha, seperti halnya Pengusaha Vilet Ikan milik Pak Tono. Beliau adalah seorang pengusaha dengan sifat berani (berani mengambil risiko saat cuaca buruk usahanya terhenti, masalah pemasaran) dan pekerja keras, sehingga beliau mampu membangun suatu usaha yang kini dapat mencukupi seluruh kehidupannya bersama keluarga.
            Tidak hanya itu, sikap peduli terhadap lingkungan sekitar juga beliau miliki. Dari duri/tulang sisa vilet ikan tidak dibuang menjadi limbah, namun diolah kembali menjadi tepung ikan. Jadi, dalam usaha vilet ikan ini tidak dihasilkan limbah dari ikan, sebab semuanya diolah menjadi produk yang berguna.